Sabtu, 17 Januari 2026

Pulau Sembulang, Galang, Kota Batam

    Kepulauan Riau memiliki banyak sekali pulau-pulau indah di dalamnya. Salah satu alasanku mengambil universitas di Batam adalah karna ini. Aku sangat menyukai pulau-pulau baru yang belum pernah kudatangi sebelumnya. Dan syukur alhamdulillah Allah SWT memberikanku kesempatan. Kali ini Dompet Dhuafa Kepri dan Yatim Mandiri bekerja sama memberikan bantuan sembako, kesehatan, ilmu dan lain sebagainya. Dan kali ini aku diberikan kesempatan untuk memeriksakan kesehatan masyarakat yang ada di pulau Sembulang, Galang, Kota Batam. Bertepatan dengan hari Minggu tanggal 09 November 2025.

    Pagi itu aku mengendarai kendaraanku menuju asrama kampus untuk menitipkan kendaraanku. Kemudian setelah itu aku dijemput temanku dan kami bersama-sama menuju kantor Yatim Mandiri untuk berifing, berdoa dan berangkat bersama. Pagi itu hujan turun sedikit demi sedikit tetapi cukup lama. Kami ragu apakah hujannya akan reda atau mungkin ber tambah lebat. 

    Kami di perjalanan berdoa semoga diberikan kelancaran dan keselamatan karna jarak yang kami tempuh cukup jauh, belum lagi untuk sampai ke pulau kami harus menaiki perahu. Semoga semuanya diberi kelancaran aamiin. 

    Mobil sedari tadi melaju melewati jembatan, rumah warga, kebun hingga masuk ke dalam hutan yang tak berpenghuni. Jalanan saat itu licin dan hujan belum reda juga. Perjalanan ini sangat jauh mungkin jika menaiki kendaraan roda dua aku yakin punggungku rasanya mau patah. Tak terasa kami sudah sampai di pelabuhan. Saat itu sudah ramai orang-orang yang juga ingin menyeberang ke pulau yang ada di seberang. Karena menunggu hujan reda dan juga menunggu kapal datang maka banyak penumpang yang masih berada di pelabuhan.



    Alhamdulillah hujan sedikit reda dan kami mulai menaiki perahu yang sudah kami nanti sedari tadi. Perahu mulai meninggalkan pelabuhan, berlayar perlahan menembus ombak lautan dan hujan yang masih awet sedari tadi. Aku menikmati suasa ini. Birunya lautan, suara mesin perahu yang berderu, indahnya ombak yang menemani perjalanan ini aku menyukainya. Hingga di tengah lamunan perahu kami sampai di pulau tujuan kami.



    Kami disambut dengan baik oleh masyarakat dan tokoh adat yang ada di sana. Kami memasuki surau yang akan menjadi tempat kami memeriksakan kesehatan. Kami mulai dari pembukaan, tilawah Al-Quran, dan ditutup dengan doa. Kami mulai berpencar sesuai dengan tugas kami masing-masing. Ada yang memeriksakan tinggi badan, berat badan, tes buta warna, pemeriksaan mata anak-anak, pemberian obat-obatan dan vitamin, dan aku mendapatkan kesempatan mengecek tekanan darah ibu-ibu dan bapak-bapak yang ada di sana, dan teman di sebelahku mengecek gula darah dan juga asam urat ibu dan juga bapak-bapaknya.




    Pemeriksaan ini disambut baik alhamdulillah terima kasih Yaallah telah memberikan kelancaran kepada kami selama pemeriksaan ini.

    Oh iya selagi kami memeriksakan kesehatan, abang dan kakak-kakak Yatim Mandiri juga mengadakan games dan memberikan hadiah kepada anak-anak di pelataran masjid ini. Dan sisanya memberikan sembako kepada warga masyarakat yang ada di sana. Kemudian karna waktu sudah menunjukkan shalat zuhur maka kami tutup dengan shalat berjamaah. Saat aku baru saja selesai berdoa tiba-tiba temanku bilang untuk segera keluar karna masih banyak masyarakat di sana yang belum di cek kesehatannya karna mereka baru pulang dari ladang.



    Aku mulai pemeriksaan ternyata kebanyakan masyarakat di sana mengalami hipertensi dan juga asam urat aku menebak mungkin ini ada kaitannya dengan makanan mereka. Saat itu aku hendak bertanya kepada Google tapi ternyata internet di sana tidak ada. Jadi aku memberikan edukasi rill menggunakan otakku sendiri mengikuti materi yang pernah aku dapatkan di perkuliahan. Meski tak seberapa aku harap informasi yang kuberikan dapat membantu mereka dalam menjaga pola hidup sehat.



    Kemudian setelah selesai pemeriksaan kami menyempatkan untuk berfoto bersama. Saat itu salah satu orang yang dihormati di sana mengajak kami ke rumahnya untuk makan. Kami kemudian berangkat bersama ke rumah bapak tersebut, ternyata teman-teman kami yang lain sudah di sana sedari tadi. Kami diberi makan blekutak, ikan asam manis, ikan asin dan masih banyak lagi. Aku sangat menyukai masakannya, ini benar-benar seleraku.

    Karna di dalam rumah sudah penuh dan kami datang telat maka kami memutuskan untuk makan di luar, saat sedari tadi kami makan kami baru sadar di samping kami duduk ini adalah makam. Kami meminta maaf kepada istri tetua kampung yang memberikan kami makan karna kami tak tau bahwa ini makam. Kata ibu itu tak apa karna luas tanah yang sedikit di pulau ini maka sudah biasa masyarakat di sini hidup berdekatan dengan pemakaman.

    Karna prahu yang kami pesan sudah sampai dan makanan kami sudah habis, maka kami berpamitan kepada ketua kampung, istrinya, dan masyarakat yang ada di sana. Saat hendak menuju prahu kami juga menyembatkan berfoto bersama anak-anak yang ada di sana. Saat aku berdiri berfoto di posisi ini aku baru menyadari ini persis seperti dimimpiku aku yakin aku tak mengkhayal, pohon ini, pasir putih ini, lapangan ini persis dengan yang ada dimimpiku. Sudah dua kali aku begini apakah mimpiku selalu memberikanku pertanda lokasi yang akan aku kunjungi? Atau mungkin hanya perasaanku saja yang mengaitkannya dengan mimpiku? Entahlah yang pasti aku bersyukur bisa menginjakkan kaki di sini dan bisa mengenal orang-orang baru yang baik dan menerimaku dengan hangat.



    Terima kasih Yaallah atas segala nikmat dan karunia yang telah Engkau berikan. Aku hambamu memohon perlindungan Mu di manapun hamba-Mu ini berada.

USG 2

     Ini  USG ke-2 yang diadakan oleh Dompet Duafa Kepri. Alhamdulillah aku masih diberikan kesempatan untuk ikut berkontribusi ke dalam kegiatan ini. Kali ini aku mendapatkan kesempatan di bagian pendaftaran dengan memeriksakan tekanan darah dan juga berat badan ibu hamil.



    USG kali ini seru dengan berbagai cerita sedih dan bahagia. Dari USG kali ini aku menyadari ternyata rezeki itu tidak hanya dalam bentuk uang, terkadang dalam bentuk janin yang dititipkan Allah SWT ke dalam rahim seorang ibu juga merupakan rezeki yang tak ternilai harganya.



    Selain dalam bentuk anak, rezeki juga terkadang dalam bentuk seorang suami, suami yang peka akan perasaan istrinya, suami yang mementingkan kebahagiaan istrinya di atas segalanya, suami yang melindungi dan menyayangi istrinya bahkan suami yang merasa dunianya sudah cukup dengan istrinya saja meski Tuhan belum mengizinkan mereka diberi momongan. Aku berdoa semoga semua ibu di belahan dunia mana pun dapat mendapatkan rezeki keduanya baik rezeki anak yang Sholeh dan Sholeh maupun suami yang begitu menyayanginya aamiin. 

    Dari USG kali ini juga aku belajar banyak hal terkadang banyak sekali pengorbanan yang sudah diberikan kedua orang tua kita bahkan sebelum kita lahir ke dunia. Orang tua mengenal kita seumur hidup mereka, sementara kita mengenal mereka bahkan tidak sampai setengah usia mereka. Maka selagi mereka ada berbaktilah kepada mereka.



Hari Santri

     


    Ini keesokan harinya setelah kegiatan dari Hotel Santika. Aku kali ini mendapatkan kesempatan memeriksakan kesehatan di Masjid Agung Kota Batam yang saat itu bertepatan dengan hari santri. Kali ini aku memeriksakan kesehatannya seorang diri, karena tadinya ada salah satu dokter yang akan mendampingiku memeriksakan kesehatan tetapi karna dokter tersebut berhalangan maka aku memeriksakan pasien seorang diri, untungnya istri Paee berkenan untuk membantuku.

    Pemeriksaan kali ini tak seramai biasanya, aku rasa karna lokasinya yang sedikit jauh dari pelataran masjid dan juga kondisi cuaca yang panas membuat bapak-bapak, dan ibu-ibu agak sedikit malas memeriksakan kesehatan mereka. Padahal kami sudah memberikan informasi kepada penyelenggara acara ini bahwa pemeriksaan kami gratis tidak dipungut biaya sepeser pun.

    Saat itu aku rasa ada 15 atau mungkin lebih yang memeriksakan kesehatan. Karena waktu juga sudah menunjukkan waktu zuhur maka kami membereskan perlengkapan kami kemudian Shalat. Saat hendak pulang Paee dan istrinya memberikanku makanannya yang cukup banyak. Aku sudah menolak tapi Paee dan istrinya bilang tidak apa-apa dibawa saja untuk makan di kosan. Aku pun menerimanya dan mengucap syukur kepada Tuhanku yang sudah memberikanku rezeki hari ini. Karena bagi anak kosan sepertiku ini, makanan adalah segalanya heheh.



    Dulu saat masih tinggal di rumah mengapa aku malas makan ya? Kenapa nikmat makanan justru muncul saat aku sudah merantau dan tinggal sendirian. Jika tau makanan dan uang itu sangat sulit dicari aku tak akan menyia-nyiakan makanan yang dimasak Ibuku. Ah aku jadi ingat nasihat bahwa penyesalan itu adanya di akhir dan sekarang aku merasakan penyesalan itu :(


Hotel Santika Batam

     Udara pagi ini seakan mengajakku untuk berlama-lama di dalam selimut. Tetapi aku ingat pagi ini aku mendapatkan tugas memeriksakan kesehatan di salah satu hotel yang ada di Batam. Dengan perasaan masih mengantuk aku mandi dan bersiap-siap kemudian berangkat ke lokasi pemeriksaan. Untungnya pemeriksaan ini tak jauh dari kosan tempatku tinggal. 

    Aku memarkirkan kendaraanku dan kemudian membereskan alat-alat yang dibutuhkan selama pemeriksaan. Kami kemudian berdoa terlebih dahulu sebelum memulai pemeriksaan dan kemudian membagi tugas. Kali ini aku mendapatkan tugas mengecek tekanan darah, mengukur berat badan dan IMT. Dan setelah dirasa cukup, kami saling bergantian tugas agar semuanya ikut merasakan.

    Tak terasa azan zuhur berkumandang yang menandakan pemeriksaan kali ini telah selesai. Kami diminta panitia Hotel Santika untuk bergantian makan ke lantai atas. Kebetulan karna saat itu masih ada yang ingin mengecekkan kesehatan maka aku mendapat urutan kedua untuk makan. Kemudian sekitar setengah jam kemudian aku mendapatkan kesempatan untuk makan ke lantai atas. 

    Masya Allah tak pernah ada dalam benakku  bisa menikmati indahnya kota Batam dari atas hotel ini, dan tak pernah terbayangkan bahwa dari kegiatan pemeriksaan kesehatan ini aku bisa makan gratis di sini. Alhamdulillah terima kasih Ya Allah atas segala nikmat dan karunia yang Engkau berikan kepada kami. Segala puji dan keagungan selalu aku lantunkan hanya untuk Mu Tuhanku Yang Maha Esa.

   












Sabtu, 10 Januari 2026

Mamah dan Nongsa

    Aku tak pernah jalan-jalan mengelilingi kota sendirian, selain karena cuaca yang panas aku juga cape jika harus berkendara jauh-jauh. Tapi kali ini berbeda, aku sangat bersemangat dan senang. Karena aku bisa menghabiskan kenangan ini dengan orang yang aku sayangi. Kebetulan mamah sedang berlibur di Batam maka aku ingin mengajak mamah menikmati sore hari dipantai Nongsa.

    Jarak Nongsa dan temapat kosanku tingga cukup jauh, aku tak ingat berapa Km tapi aku bisa merasakanya dari tangan dan pinggangku yang rasanya mau copot berkendara sejauh itu. Saat itu cuaca untungnya tidak sedang panas jadi perjalanan panjang ini tak begitu menyiksa kami berdua.

    Tak terasa kami akhirnya sampai di tempat tujuan kami. Kami memilih tempat ini karena ibuku sudah sangat haus sedari tadi. Jadi kami melipir ke salah satu rumah makan yang ada di pesisi pantai. Kami memesan satu buah es kelapa muda dan juga satu teh obeng. Karena mungkin perjalanan yang jauh yang tadinya kami sudah makan sekarang justru lapar itu kembali lagi, kami pun memesan dua porsi makanan juga.





    Pemandangan ini sangat indah. Kamu tau bangunan tinggi di sana?, Yaps, benar sekali itu bangunan Pollux Habibie, kosan ku tak jauh dari bangunan itu. Kalau dilihat dari sini rasanya dekat tapi jika mengendarai kendaraan ini sangat-sangat jauh. Aku menyukai bau pantai, suara ombak yang memecah batuan pantai, dan ikan-ikan kecil yang hilir mudik bermain dengan bebasnya. Tapi berbeda dengan ibuku dia tak menyukai pantai dan sejenisnya. Ibuku lebih menyukai hutan dari pada hal-hal yang berhubungan dengan laut. Aku pernah bertanya alasannya katanya sih karena ibu tak bisa berenang makanya dia tidak suka pantai.

    Karena ibuku tidak menyukai pantai dan makanan kami pun sudah habis maka kami memutuskan pulang. Aku mengendarai kendaraan perlahan karena aku ingin menikmati momen ini lebih lama lagi. Dan tak terasa adzan zuhur berkumandang, kami memutuskan untuk mampir terlebih dahulu ke masjid yang ada di dekat bandara. 


    Ibuku sangat menikmati suasana asri di masjid ini. Ya Allah Ya Tuhanku aku berharap engkau memberikan kesehatan, keselamatan, kebahagiaan, rezeki dan umur yang panjang kepada mamah. Izinkan aku membahagiakannya, izinkanku membawa mamah ketanah suci Mu dan membawanya menikmati indahnya tempat-tempat baru yang belum pernah kami kunjungi sebelumnya. Aku mohon semoga engkau masih memberikannya kesempatan yang panjang untuk bisa terus bersamaku, dan menemani kami anak-anaknya bertumbuh aamiin... Tuhanku aku masih membutuhkan ibuku tolong panjangkanlah umurnya.




USG 1

     Tak pernah terbayangkan sebelumnya bisa memeriksakan kesehatan ibu hamil. Kali ini Dompet Dhuafa Kepri membuka pelayanan kesehatan bagi ibu hamil dan wanita yang memiliki masalah terhadap sistem reproduksinya. Kegiatan ini dilakukan secara gratis tidak dipungut biaya sepeser pun. 

    Kali ini aku diberikan kesempatan untuk mendampingi dokter selama pemeriksaan berlangsung. Aku melihat bagaimana lihainya tangan sang dokter yang memeriksakan setiap ibu hamil di sana. Aku melihat bagaimana cara dia berkomunikasi yang baik kepada pasien dan menjelaskan hasil pemeriksaannya. Saat aku melihat kelayar alat USG aku tak mengerti apa yang ia nilai dan apa yang iya tekan ditombol USG sehingga ia bisa menilai kondisi bayi yang ada di dalam kandungan pasien itu. Aku benar-benar takjub ini pertama kalinya aku melihat proses USG berlangsung.

    Saat asik memperhatikan dokter yang sedang memeriksa tak kusangkan dokter memberikanku kesempatan untuk mengoprasi kan alat USG tersebut. Awalnya aku takut tapi kapan lagi aku bisa mendapatkan pengalaman ini, jadi aku mulai dari mengoprasi kan USG ini dengan melengkapi identitas pasien yang ada dilayar monitor. Wah Masyaallah terima kasih dokter sudah memberikanku kesempatan untuk belajar. Untuk pengalaman ini aku ratting  10/10.







Mengeja Cintamu

 

   

    Ketika aku tertawa dan menangis dalam bahasa yang tak dapat kupahami

    Aku pun jatuh perlahan dalam dekap Mu

    Kata dalam bahasaku selalu mengekspresikan warna merah

    Namun Kau ubah menjadi biru yang cerah

    Bahasa Mu yang selalu meneriaki kata cinta

    Selalu kubalas dengan jiwa yang berlumur dosa

    Aku mulai belajar mengeja bahasa cinta Mu

    Dan aku sadar

    Cinta Mu adalah kalimat terindah diantara kalimat yang pernah terlahir didunia

                                                                  -Beby Wulansuci-

PKS

    


     Pemeriksaan kali ini berbeda dari sebelumnya. Kali ini aku memeriksakan kesehatan di acara yang diadakan oleh Partai Keadilan Sejahtera. Aku mendapatkan kesempatan ini dari Paee. Kali ini pemeriksaannya ditemani oleh temanku W. Pemeriksaannya di lakukan disalah satu hotel yang ada di Batam. Aku setiap hari melewati hotel ini dan selalu bertanya-tanya bagaimana ya isi di dalamnya. Masyaallah ternyata Allahku yang maha baik memberikanku kesempatan ini, sehingga aku bisa menjelajahi hotel tanpa harus menginap di dalamnya. Terimakasih Yaallah.



    Pemeriksaan dilakukan dari pukul 10.00 WIB hingga pukul 12.00 WIB. Aku dan temanku sangat menikmati pemeriksaan kali ini. Karena ini juga momen pertama kalinya temanku W memeriksakan orang banyak. Saat itu tanganku sampai-sampai rasanya pegal sebelah karena harus memompa alat tensi kepada banyak orang. Tapi tak apa aku menikmatinya, aku menikmati suara detak jantung yang terdengar saat manset mulai menekan lengan pasien, menikmati cerita-cerita pengalaman hidup ibu-ibu di sana, aku juga menikmati dinginnya ruangan ber AC ditambah dengan basahnya pakaianku karena hujan di jalan tadi, yang ikut menambah rasa dingin ditubuhku yang kurus ini. Oh iya aku sampai lupa aku juga menikmati nasi kotak dengan sambalnya yang rasanya membuatku ingin menambah satu kotak lagi jika di perbolehkan.

    Setelah makan kami berpamitan dengan Paee dan juga istrinya, dan tak lupa kami menikmati sudut-sudut hotel ini. Karena kapan lagi kami bisa masuk hotel ini dengan gratis heheh. Cukup sekian ceritaku kali ini untuk retting pengalamannya 8/10.



Sidomulyo Tembesi

    


     Masih memperingati hari kemerdekaan, keesokan harinya aku tak sendiri seperti kemarin. Pemeriksaan kali ini aku dibantu tiga orang temanku dan juga Paee. Kali ini pemeriksaan gratis kami lakukan di Desa Sidomulyo, Tembesi, Batam. Acara ini diadakan oleh Dompet Dhuafa Kepri. Wah terima kasih banyak Dompet Dhuafa Kepri sudah memberikan aku kesempatan lagi untuk bisa memeriksakan kesehatan masyarakat yang ada di kota Batam ini.

    Pagi itu kami mulai dengan upacara 17 Agustus 2025 dan kemudian kami melakukan pawai bersama masyarakat yang ada di sana. Dulu kukira disini tak ada desa, ternyata dari kegiatan ini aku mengetahui bahwa ada desa di sini dan yang menakjubkannya di sini hampir semuanya adalah orang Jawa. Sgulaaat pawai banyak anak-anak yang memakai pakaian adat daerah dan kostum-kostum lucu, bapak-bapak dan ibu-ibu juga banyak yang ikut menggunakan kostum untuk memeriahkan acara ini.

    Kemudian saat pawai sudah selesai tugas kami pun akhirnya dimulai. Aku saat itu mendapatkan kesempatan untuk mentensi tekanan darah orang dewasa dan memeriksakan golongan darah adik-adik manis yang ada di sana. Temanku ada yang bertugas memeriksakan gula darah, asam urat, kolesterol. Kami melakukan tugas secara bergantian agar semuanya bisa ikut merasakan juga.


    Kami disambut baik dan hangat selama pemeriksaan ini berlangsung, bahkan kami diberikan teh hangat dan makan siang oleh masyarakat di sana. Masyaallah terima kasih banyak Yaallah atas nikmat yang telah engkau berikan. Dari kegiatan ini aku menemukan arti dari menjadi dokter yang sebenarnya, aku memohon dengan sangat semoga dengan ilmuku ini aku bisa membantu banyak orang yang membutuhkan pelayanan kesehatan, aku berdoa semoga Allah SWT yang maha pemilik segalanya menganugrahkanku ilmu yang bermanfaat dan hati yang selalu terpaut untuk membatu sesama aamiin...



Hut RI Ke-80

     Hari kemerdekaan kali ini berbeda dari hari kemerdekaan biasanya. Dulu setiap tahun aku hanya selalu mengikuti lomba makan kerupuk, sepeda hias, memasukkan paku dalam botol, tarik tambang, membaca puisi, dan lain sebagainya. Tapi kali ini aku diberikan kesempatan untuk ikut merayakan kemerdekaan dengan memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat yang ada di Tanjung Uma. Awalnya kukira nanti di sana aku akan dibantu oleh temanku. Tapi ternyata karena temanku yang lain berhalangan datang jadi aku memeriksakan kesehatan berdua saja dengan Paee. Tapi karena salah satu keluarga Paee ada yang meninggal dunia jadi dia harus segera pulang dan aku menyelesaikan pemeriksaan seorang diri. Kalau ditanya apakah aku berani ? jawabannya tidak heheh.

    Aku yang biasanya memeriksakan gula darah, kolesterol, dan juga asam urat, karena Paee tidak ada maka mau tidak mau aku harus bisa untuk mentensi tekanan darah juga. Sedangkan aku selama ini hanya tau materinya saja tapi untuk mentensi orang lain aku belum pernah. Nah karena saat itu hanya aku seorang diri jadi bismillahirohmanirohim aku perlahan memasang stetoskop ditelinga dan mulai memasangkan manset di lengan pasien. Alhamdulillah ternyata bisa, ternyata aku dengar jelas suara sistole dan diastole pasien. Aku selalu mendengar dari orang lain katanya kalo tensi manual sering tidak terdengar suara sistole dan diastolenya makanya aku sangat takut untuk mentensi pasien. Tapi dari kejadian dan pengalaman ini aku sangat-sangat mencintai tensi menensi ini. Kenapa ya tidak dari dulu saja aku mencoba ini, kenapa aku dulu harus takut? Ternyata hal yang menurut orang menakutkan saat kita jalani belum tentu semenakut kan itu.

    Pasien saat itu sangat banyak, dan ditambah lagi aku harus dor to dor ke rumah-rumah warga karena banyak dari masyarakat di sana yang tidak bisa datang ke posko pelayanan kesehatan gratis ini. Aku mendapatkan ilmu baru dan pengalaman berharga dalam kegiatan kali ini. Aku ucapkan terima kasih banyak kepada kakak-kakak Dompet Dhuafa Kepri yang sudah memberikanku kesempatan dan juga membantuku memeriksakan kesehatan pasien di saat kondisi benar-benar hectic-hecticnya. Terimakasih Yaallah sudah membantuku menyelesaikan pemeriksaan ini dengan aman dan lancar.





Rabu, 07 Januari 2026

Ramadhan

     Ini puasa keduaku di tanah rantau, puasa kali ini berbeda dari tahun sebelumnya. Karena di tahun ini aku bisa berpuasa dengan adik, dan ibuku. Dan tahun ini aku diberi kesempatan untuk mengajari anak-anak TPQ. Kegiatan ini kami mulai dari pembukaan, pembacaan doa, perkenalan, kisah inspirasi, materi cara mencuci tangan yang baik dan benar, games dan ditutup dengan renungan. 

    Selama kegiatan ini syukurnya tak ada kendala, anak-anak menikmati pematerian yang aku dan teman-teman berikan dengan baik, meskipun ada sebagian yang ketiduran heheh. Kemudian tak terasa azan maghrib berkumandang. Kami akhirnya berbuka bersama dan kemudaian diakhirni dengan shalat maghrib berjamah.

    Terima kasih ibu K dan teman-teman semua yang sudah memberikanku kesempatan untuk mengajari adik-adik di TPQ dan memberikan pengalaman yang berkesan bagiku untuk puasa kali ini.


   Selama puasa kali ini, aku tidak hanya mengajar di TPQ tetapi juga mendapatkan pengalaman yang sangat berharga yaitu mengenal orang-orang baru yang tinggal disekitar kosanku. Karena kosanku berdekatan dengan masjid, aku bersyukur bisa menunaikan shalat tarawih dan tadarus Al-Quran di sana. Dari masjid ini aku mulai mengenal anak-anak kecil yang sangat bersemangat dalam beribadah selama bulan Ramadhan berlangsung.

    Kedekatan itu akhirnya meluas, dari yang tadinya hanya mengenal anak-anak saja sekarang aku juga mengenal ibu-ibu dan bapak-bapak di sekitar masjid ini. Hingga tak terasa bulan puasa ini akan segera berakhir. Satu hari sebelum lebaran, salah satu ibu-ibu pengajian mengajakku untuk merayakan tasyakuran hataman Al-Quran selama kami tadarusan satu bulan full ini. Kami mulai dari membaca surat pendek, doa bersama dan diakhiri dengan makan bersama. Karena selama Ramadhan aku sudah sering berinteraksi dengan mereka jadi saat acara tasyakuran itu aku tidak lagi merasa canggung.



    Puasa kali ini pun memberikanku pengalaman baru yang berkesan, yaitu untuk kedua kalinya aku membayar zakat fitrah mewakili keluargaku. Pengalaman ini terasa berarti bagiku. Ternyata membayar zakat fitrah tidak semenakut kan yang dulu kubayangkan.

    Dulu aku merasa takut berada di tengah-tengah bapak-bapak. Namun sekarang justru dari merekalah aku banyak mendapatkan nasihat, petunjuk hidup dan ilmu bersosial. Usia mereka aku rasa tak jauh dari usia ayahku, jika seandainya ayah masih hidup. Ah membicarakan soal ayah, aku jadi merindukan ayahku. Ayah maaf ya yah sudah dua kali puasa aku tak berziarah ke rumah barumu. Tapi aku percaya meski jarak memisahkan kita, tapi doaku pasti akan sampai kepadamu aamiin. Semoga aku bisa segera menyelesaikan pendidikan ini dan diberi kemudahan dalam menuntut ilmu di kota orang ini. Sehingga saat tiba waktunya aku berziarah ke makam ayah aku sudah membawa gelar dokter di namaku dan ilmu yang bisa kubagikan kepada masyarakat luas aamiin. Meski jarak kita jauh aku selalu memandangi langit dan percaya ayah pasti menemaniku dari atas sana. 


Hari Terakhir di Asrama

     Tak terasa waktu ini akhirnya tiba. Kami harus meninggalkan asrama ini. Dimulai dari kak A yang harus terlebih dahulu keluar asrama, karena ia sekarang sudah koas. Saat itu suasana sudah mulai sepi karena kami yang tadinya selalu tidur berempat sekarang harus tidur bertiga saja. Dan perasaan sepi itu sangat terasa bagiku, karena kedua temanku yang lain mereka memiliki teman-teman yang lain, jadi setiap sore mereka memiliki kegiatan, acara atau belajar bersama dengan teman-teman mereka, sedangkan aku hanya diasrama saja bersama kak A.

    Lalu waktu terus berganti hingga akhirnya temaku P juga sudah mendaptkan kosan yang baru dan akhirnya pindah dari asrama. Kamar ini mulai sepi tak seramai dahulu, P yang memiliki banyak cerita dan menghidupkan suasana kamar sekarang sudah membawa jiwa semangatnya pergi dari asrama ini.

    Hingga akhirnya tiba saatnya aku yang pergi, awalnya kukira aku akan tinggal di asrama ini hingga lulus kuliah. Tapi ternyata jalan takdir tak ada yang tahu, aku akhirnya pindah ke kosan karena aku harus tinggal bersama adiku. Ada rasa sedih, senang saat meninggalkan asrama. Sedih karena aku ingat sekali dahulu pertama kali datang ke asrama ini seorang diri dan saat membuka pintu ternyata sudah disambut teman kamarku P dan F yang menyambutku dengan hangat. Dan perasaan bahagia karena aku sudah tak merasakan dinginnya kamar ini lagi. AC dikamar kami sangat-sangat dingin dan posisi kasurku tepat di depan AC, jadi bagi tubuhku yang tak kuat dingin ini benar-benar menyiksa. Apalagi selama di kedokteran harus belajar malam untuk menyelesaikan tugas dan belajar mandiri, jadi aku tak kuat belajar di dalam kamar ini.

    Aku berpamitan dengan temanku F kami berpisah dengan terlebih dahulu berjalan-jalan ke pantai Nongsa. Ini cara kami berpisah, karena aku ingat sekali dahulu kami berdua setiap malam selalu berjalan-jalan hanya di sekitar asrama saja, karena kami tak memiliki kendaraan. Saat itu kami berjanji siapapun diantara kami berdua yang memiliki kendaraan maka harus mengajak ke pantai. Dan syukur alhamdulillah ternyata Tuhan menitipkan rezeki kepadaku sehingga aku memiliki motor, tapi karena waktu dan lain sebagainya janji itu tak pernah kutepati. Dan sekarang aku menepatinya dengan mengajak temanku F jalan-jalan ke pantai yang ada di Nongsa. Aku berterima kasih kepada F karena sudah mengajariku memasak terong, dan labu siam saat diasrama. Dan terima kasih sudah menjadi teman kamar yang sangat-sangat baik. 

    Untuk satu tahun di asrama ini aku sangat menikmatinya. segala hal pahit manis di kehidupan kita sesungguhnya tak lain untuk mengajari kita bagaimana caranya untuk menjadi seorang manusia. Dari asrama ini juga aku belajar caranya bersyukur dan menerima segala hal tak harus selalu berjalan sesuai dengan keinginan kita. Terima kasih Kak A, terima kasih P dan terima kasih F untuk senang, sedih yang sudah kita lewati  satu tahun ini. Sekali lagi aku ucapkan terima kasih kamar 16 lantai 3, 2023.





Sabtu, 03 Januari 2026

Pulau Inspirasi

    

Pematerian dan Pengenalan

     Kali ini aku ingin mencoba pengalaman baru, yang biasanya dibidang kesehatan kali ini aku ingin mencoba dibidang pendidikan. Kebetulan salah satu temanku merupakan pengurus dari suatu organisasi yang ada di Batam. Saat itu dia mengajak kami untuk ikut merasakan berbagi ilmu dan pengetahuan kepada adik-adik yang ada di pulau-pulau. Sebagaimana kita ketahui Kepulauan Riau memiliki banyak sekali pulau-pulau di sekitarnya yang masih sulit untuk akses kesehatan dan pendidikan. Oleh karena itu organisasi ini bergerak dalam hal tersebut demi pemerataan pendidikan dan kesehatan.

    Kebetulan saat itu kami sedang libur kuliah dan kami tidak pulang ke kampung kami masing-masing, jadi kami bisa mengikuti acara tersebut. Sebelum hari keberangkatan tiba, kami diberikan pematerian terlebih dahulu dan berkenalan dengan orang-orang baru yang ada di organisasi tersebut. Setelah merasa cukup kenal dan sudah mengetahui tugas masing-masing hari keberangkatan pun tiba.

    Kami saat itu berkumpul di Kepri Mall menunggu bis yang akan membawa kami tiba, setelah itu kami berangkat sesuai dengan lokasi kami masing-masing. Ada yang berangkat ke Pulau Air Lingka, Pulau Rempang Cate dan Pulau Tanjung Pengapit, acara ini dilaksanakan pada tanggal  22 Februari 2024. Awalnya aku mengira aku mendapatkan kesempatan mengajar di pulau sebrang. Ternyata aku masih di darat dan tidak menyebrang ke pulau. Tapi tak apa, di pulau Rempang Cate aku tetap bisa merasakan sambutan yang hangat dan juga antusias anak-anak yang luar biasa.


    Aku mendapat kesempatan mengajar di kelas 1, anak-anak pada awalnya malu-malu dan takut tapi lama kelamaan mereka mulai berani dan aktif selama kelas berlangsung. Materi yang diangkat saat itu mengenai cita-cita. Karena ini kelas 1 SD maka aku harus menjelaskan materi seringan mungkin agar anak-anak tersebut paham apa itu cita-cita dan dapat tertanam dalam fikiran mereka. 

    Aku memulai dari game sebagai pembukaan, lalu aku memberikan mereka gambar tentang macam-macam profesi yang ada dan mereka mewarnai gambar tersebut dan diberi sedotan, jadi kira-kira seperti wayang cita-cita. Setelah itu aku mengambil poster yang berisi informasi mengenai cita-cita kemudian menjelaskan kepada mereka apa itu cita-cita dan kemudian memberikan mereka hadiah satu persatu karena mereka sudah mau aktif selama kelas berlangsung. Dan tak lupa diakhiri dengan dokumentasi bersama.

    Kegiatan ini sangat seru dan berkesan, meskipun jarak mereka jauh dari pusat kota tapi tak menghalangi mereka untuk bersekolah dan kami di sini hadir dengan memberikan mereka dukungan bahwa setiap orang itu layak memiliki cita-cita. 

    Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 13.00 WIB kami sudah harus berpamitan dengan guru-guru yang ada di sana dan juga anak-anak yang ada di sekolah tersebut. Ada rasa hangat menyelimuti hati kami. Semoga ilmu yang kami berikan hari ini kepada mereka dapat menjadi semangat mereka dalam meraih cita-cita mereka dimasa yang akan datang aamiin.



Jumat, 02 Januari 2026

Kembali Pulang

     Untuk kali ini aku ingin menceritakan perjalananku dengan sangat panjang. Karena aku ingin membekukan perjalanan ini dalam setiap kata dengan detail dan rinci, sehingga saat aku membacanya aku bisa ikut membayangkan kejadian dan pengalaman ini. Hallo Bebyy aku persembahkan cerita ini untukmu.

    27 Januari 2024, setelah sholat subuh aku berjalan perlahan menuruni anak tangga untuk menunggu mobil jemputan yang sudah kupesan tadi. Setelah menunggu beberapa saat akhirnya mobil itu tiba dan aku memulai perjalanan ini. Aku melihat jalanan-jalanan yang persis dahulu pertama kali aku tiba di Batam. Jalan ini adalah jalan menuju ke Pelabuhan Sekupang jadi saat aku melintasinya seperti ada perasaan dejavu. Dan akhirnya aku tiba di pelabuhan, tak butuh waktu lama aku membeli tiket dan masuk menuju kapal fery yang akan aku naiki ke tujuanku. 

    Kapal terombang-ambing kesana kemari bagai penari yang menikmati alunana melodi, langit biru terbentang begitu pun lautan ini yang biru terhampar. Di dalam kapal aku melihat banyak sekali orang yang memiliki kepentingan mereka masing-masing, ada yang membeli kebutuhan warung di Batam, ada yang habis berobat, ada yang pulang dari rantauan dan mungkin ada yang sepertiku ingin kembali ke tanah kelahiranya. Tak terasa kapal kami sampai di Pelabuhan Tanjung Batu, ada rasa sedih, senang takut semuanya bercampur menjadi satu. Bagaimana tidak dulu aku meninggalkan tempat ini kelas 3 SD dan sekarang harus kembali ke tempat ini seorang diri saat aku sudah semester 2 di bangku perkuliah.

    

Pelabuhan Tanjung Batu

    Aku menikmati sekeliling pelabuhan ini, aku dulu ingat sekali sering kesini setiap malam bersama adik dan kedua orang tuaku. Aku perlahan berjalan meninggalkan pelabuhan, aku menunggu jemputan adikku. Dan syukurnya adikku tiba, sudah hampir beberapa bulan kami tidak bertemu ada rasa rindu menyelimuti pertemuan kami kala itu. Setelah cukup melepas rasa rindu kami menaiki kendaraan roda dua kami dan beranjak menuju kosan tempat adikku tinggal.

    Saat kami meninggalkan pelabuhan aku melihat mobil oplet yang dahulu pernah ayahku gunakan untuk mencari nafkah. Kamu tau perasaanku saat itu? aku merasa seperti almarhum ayah sedang menunggu kedatanganku dipelabuhan, meskipun sedetik kemudian aku tersadar bahwa itu bukan ayah hanya mobilnya saja yang masih ada. Aku melewati simpang janda, vihara, tempat kerja ibuku, toko kueh yang dulu aku ingin sekali membelinya dengan uangku sendiri, dan aku juga melewati SD ku dahulu. Aku ingat di gerbang ini aku pernah menunggu jemputan ayah, pernah berjalan membawa dua tas yang penuh buku menuju tempat les sendirian, dan masih banyak lagi cerita hidupku di sini.

    Selama perjalanan ada rasa aneh dan mengganjal dalam fikiranku, kenapa sedari tadi tidak ada oplet hanya ada satu oplet yang kulihat sedari tadi, itu pun oplet yang dahulu pernah di gunakan ayah saja yang kulihat  di pelabuhan tadi, dan mengapa lampu merah sudah tidak berfungsi? lalu kenapa banyak rumah-rumah tertutup rapat apakah mereka juga sudah pindah dari tempat ini?

    Di tengah panasnya mentari hari itu dan fikiran yang terus bertanya-tanya, kami akhirnya tiba di kosan adikku. Untuk beberapa hari aku akan tinggal disini. Sore harinya kami menuju pantai karena kebetulan pantainya tak jauh dari kosan adikku. Kami menikmati lendot dan teh tarik, sudah hampir 10 tahun aku tak makan lendot jadi kurasa ini makanan terenak yang pernah kumakan saat itu. Hingga tak terasa mentari mulai kembali ke rumahnya begitu pun aku dan adikku yang memutuskan kembali ke kosan.

Lendot dan Teh Tarik
Pantai Mukalimus

    Keesokan harinya aku memutuskan untuk berjalan-jalan ke tempat-tempat yang dahulu pernah kulewati. Tujuan kami adalah ke rumah masa kecil kami. Saat masuk ke gang aku merasa jalan ini semakin mengecil, apakah aku yang sudah tumbuh dewasa sehingga saat aku melihat jalanan ini semakin mengecil atau memang kontur jalannya yang mulai berubah? kulihat pohon jambu, pohon asem, lapangan tempatku main sekarang sudah tertutupi rimbunnya ilalang, dan kulihat batu besar tempatku bermain bersama monyet pun sudah tidak ada, malahan sekarang sudah dibangun rumah-rumah warga yang baru. 

    Sebelum ke rumah, aku ingin melihat mushola tempatku mengaji terlebih dahulu saat aku sampai di sana mengapa musholanya menjadi kecil? Apakah karena tubuhku dulu masih kecil sehingga aku melihat mushola ini sangat besar ya? Di samping mushola aku melihat rumah temanku, aku ingat sekali sebelum mengaji selalu bermain disana, kami kebetulan teman satu TK  dan kami juga sama-sama anak supir oplet, sehingga setiap harinya kami rasa tidak ada jarak diantara kami. Tapi sekarang rumah temanku sudah tinggal puing bangunan dan ditutupi ilalang, aku tak tau kemana perginya temanku dan keluarganya.

    Saat hendak beranjak dari lokasi mushola aku melihat ibu-ibu yang dulu pernah menjual rumbah petis, aku ingat sekali setiap sore sebelum mengaji kami selalu membeli rumbah di bibi itu dan karena uang jajan kami nggak cukup akhirnya karena kehausan kami meminum air keran di tempat wudhu, katanya sih airnya bersih karena dari surga heheh (dasar anak kecil). Saat itu kami tidak sakit perut malahan masa-masa kecil kami saat itu selalu lapar dan tak pernah kenyang. Karena setiap mau menuju mushola terkadang kami di jalan mencari jambu batu, jambu air, jambu monyet apapun itu kami ambil untuk kami makan bersama di mushola. Ah jadinya aku merindukan teman-temanku.

    Perjalanan selanjutnya adalah tempat yang menjadi tujuanku sedari dahulu yaitu rumah masa kecilku. Saat aku melewati gang ini banyak sekali yang berubah, rumah-rumah sudah semakin sedikit, orang-orang tidak seramai dahulu, ilalang tumbuh subur menyelimuti jalan, dan rumahku? Ya benar saja rumahku berubah. Halaman rumahku yang dulu tempat parkir mobil kini sudah di tutupi tanaman pisang, cat tembok sudah mulai terkelupas, pagar mulai berkarat dan tanaman bunga milik ibu pun sudah tidak tersisa. Aku menghabiskan banyak sekali cerita di rumah ini, dua orang anak kecil yang setiap hari menunggu kedua orang tuanya pulang bekerja, bermain berlari kesana kemari sekarang semua itu tinggal cerita. Kini kedua anak itu sedang memandangi rumah masa kecilnya.



    Aku melihat ke kanan ke kiri mengapa di sini sepi? Mengapa rumah teman-temanku sudah tidak ada? Apakah mereka kembali ke kampung halaman mereka masing-masing? Apakah mereka sehat? Kini gang jengkol sudah tidak seperti dahulu lagi. Aku sadar setiap orang memiliki masanya masing-masing dengan cerita yang tak akan bisa terulang lagi.

    Kami memutuskan kembali ke kosan adikku, di jalan tanpa sengaja mata kami tertuju pada buah yang tak pernah kami temui di Jawa. Ya benar sekali buah matoa. Buah ini rasanya seperti perpaduan antara durian dan kelengkeng, baunya wangi dan daging buahnya tebal. Dahulu setiap ayah dan mamah pulang kerja pasti mereka membawakan kami martabak jagung dan matoa. Dahulu buah ini juga jarang bisa dibeli setiap hari karena waktu musimnya, banyaknya permintaan, dan harganya yang lumayan. Saat itu kami membeli untuk satu kilonya seharga Rp60.000.

Matoa

    Keesokan harinya kami berjalan-jalan menikmati suasana Tanjung Batu, kanan kiri kami melihat pohon karet, sawit, dan rumah-rumah beratap rumbia juga masih kami jumpai. Tujuan kami adalah mencari kosan yang baru untuk adikku. Tapi karena cuaca yang panas dan juga adikku yang sudah tidak betah tinggal sendirian di Tanjung Batu, jadi kami bertiga berdisku dan akhirnya memutuskan untuk membawa adikku ke Batam tinggal bersamaku. Jadi hari itu kami memutuskan ke pelabuhan untuk menanyakan kapan kapal yang akan kami gunakan tiba, agar kami bisa bersiap-siap.

    Pelabuhan yang kami tuju kali ini berada di Selat Beliah. Aku ingat sekali dahulu di sepanjang jalan ini banyak orang-orang berdiri menunggu oplet lewat dan banyak oplet yang berlalu lalang, mungkin karena sekarang sudah banyak orang yang memiliki motor dan mobil pribadi jadi lama kelamaan oplet sudah mulai tersingkirkan dan sekarang sudah tidak digunakan. Entah mendapat ide dari mana, tiba-tiba aku melihat mobil bak hitam terparkir dihalaman salah seorang warga, aku memutuskan berhenti dan meminta nomor bapak itu. Kenapa aku meminta nomornya? akupun tak tahu kenapa aku punya keberanian untuk meminta nomor bapak tersebut. Lalu akhirnya kami sampai di pelabuhan Selat Beliah. Disini sudah sepi tak seramai dahulu. Aku ingat dahulu saat aku kecil selepas sholat subuh aku mengantarkan kepergian ayah untuk bekerja tapi mungkin karena saat itu libur sekolah ayah mengajakku untuk menarik penumpang. Aku jadi sudah terbiasa dengan para supir oplet dan juga pelabuhan ini tak asing dalam ingatan masa kecilku. Jadi saat sekarang aku kembali kesini aku benar-benar merindukan suasana itu.

    Aku melihat pohon besar di samping pelabuhan ini, dulu saat tak mendapatkan penumpang aku dimintai ayah untuk mencarikanya uban sambil mendengarkan cerita. Katanya di Jawa itu banyak sawah, rumah nenek deket masjid dan banyak cerita indah yang ayah ceritakan kepadaku. Dan hingga akhirnya ucapan ayahpun dikabulkan Tuhan, kami akhirnya sekeluarga pulang ke kampung halaman ayah dan mamah. Ibuku juga dahulu di sini di selat ini pernah berkata "Mamah, ayah sama kakak mah lahirnya di Jawa, jadi kami harus pulang ke Jawa. Kalo Wulan sama Guntur mah lahirnya di sinih mamah yakin pasti suatu saat kaliam bakal kembali lagi kesini". Ternyata ucapan mamah benar aku dan adikku kembali menginjakan kaki disini hanya berdua saja. Dan ayah yang bercerita tentang indahnya tempat kelahiranya akhirnya berpulang kembali untuk selama-lamanya di tempat yang selalu ia ceritakan kepadaku.  Tempat ini, selat ini penuh cerita bagi diriku.

Pelabuhan Selat Beliah

    Kami akhirnya bertanya tentang keberangkatan kapal, ternyata kapal yang membawa motor dan penumpang hanya ada sore ini saja jadi besok tidak ada. Sementara kami berfikir karena kami belum membereskan perlengkapan, belum izin ke pemilik kosan, dan tak membawa persiapan apa-apa. Jadi setelah berunding akhirnya aku harus melepaskan adikku terlebih dahulu, karena adikku membawa kendaraan bermotor jadi hanya sore ini kesempatan kami. Jadi aku mengantar kepergiannya dan aku masih di sini sendiri.

    Setelah kapal yang adikku naiki sudah tak terlihat aku berjalan perlahan menjauhi dermaga, dan kamu tahu? ternyata dorongan yang entah muncul dari mana untuk meminta nomor hp bapak-bapak di jalan tadi jawabannya adalah untuk ini. Karena saat di pelabuhan aku bertanya apakah ada oplet atau ojek kata bapak penjaga loket tidak ada. Syukur alhamdulillah aku sudah meminta nomor hp bapak diawal tadi jadi langsung aku hubungi dan memintanya menjemputku. Terimakasih Yaallah terimakasih untuk kemudahan dan kebaikan yang engkau berikan kepada kami.

    Mobil bak hitam akhirnya tiba ini mobil satu-satunya yang aku lihat sedari tadi menunggu di pelabuhan. Tujuan kami adalah ke kosan adik dan membawa barang-barangnya ke pelabuhan. Saat diperjalanan aku dan bapak itu bertukar banyak cerita dan bapak itu menjelaskan bahwa disini sudah mulai sepi ditinggal para perantau. Oplet sudah tidak ada karena setiap orang sudah memiliki kendaraan masing-masing. Tak terasa kami sudah sampai, setelah aku membereskan barang-barang meminta izin ke pemilik kosan dan bersalaman dengan warga sekitar kami pun berangkat ke pelabuhan selat beliah. Saat di jalan kami baru sadar waktu sudah mau malam dan sepertinya kapal di Selat Beliah sudah berangkat dan tidak ada keberangkatan lagi. Aku bilang ke bapak itu tidak apa-apa malam ini aku tidur di pelabuhan selat beliah saja, tapi bapak itu tidak mengizinkan katanya nggak baik untuk perempuan jadi kami memutar kembali untuk berbalik arah menuju pelabuhan Tanjung Batu. Aku mulai santai karena mungkin besok baru bisa membeli tiket, aku menikmati sore hari di sini, dan akhirnya tiba di Akau. Akau ini adalah tempat makan orang Tanjung Batu, dahulu saat ada pertandingan piala dunia disini kami berkumpul menikmati makanan di pinggir laut dan menonton pertandingan melalui layar tancap. Aku baru tersadar hp ku mati sedari tadi, dan aku meminta izin kepada salah satu masyarakat disana untuk menghubungi kakak dan kata kakak malam ini jangan tidur di akau tidur di hotel saja. Akhirnya aku sampai di hotel dan berterimakasih ke bapak pemilik mobil tadi.


    Malamnya aku menikmati suasana di  akau, tapi disini sudah banyak yang berubah. Dulu didepan hotel ini berdiri istana balon dan permainan mandi bola, dulu setiap sore aku, adikku, ayah dan mamah selalu kesini. Karena di waktu sore hari inilah kami bisa berkumpul bersama setelah menghabiskan siang hari kami tak bertemu karena kesibukan kami masing-masing. Tapi sekarang gelap tak ada istana balon dan para muda-mudi yang duduk di pinggiran jalan. Saat aku melangkahkan kaki ke akau bagian belakang, ternyata disana sudah tidak ada sekarang sudah digabung di akau depan. Dan di akau depan juga sudah tak seramai dahulu. Jadi aku memutuskan berjalan lurus kedepan, aku membeli jasuke ternyata penjualnya masih orang yang sama, ia setia berjualan padahal aku dahulu masih TK dan sekarang sudah kuliah dia masih tetap ditempat yang sama dan berjualan yang sama. Semoga Allah memberikan kesehatan, kebahagiaan dan umur panjang bagi penjual jasuke tersebut aamiin.

    Aku kembali ke hotel dan beristirahat setelah menghabiskan hari yang panjang ini. Tak terasa pagi mulai tiba. Aku bersiap-siap dan mulai sadar ternyata barang-barangku sangat banyak bagaimana caraku membawanya ke pelabuhan. Meskipun hotelnya tak jauh dari pelabuhan tapi butuh beberapa kali untuk mengambilnya. Aku perlahan keluar dari hotel dan membeli tiket di pelabuhan. Dan disana aku melihat segerombolan bapak-bapak yang hendak pulang kampung aku menjelaskan bahwa aku kesulitan dan syukur alhamdulillah salah satu bapak ada yang membantuku membawa barang-barang. Saat aku menawari uang sebagai ungkapan terimakasih bapak tersebut menolak, katanya dia teringat anaknya yang juga seusiaku. Dia berharap semoga anaknya juga dibantu Tuhan jika mengalami kesulitan sebagaimana dia membantuku hari ini. Aku berterimakasih dan akhirnya aku menuju pinggiran pelabuhan untuk menunggu kapal tiba.

Barang-barang Adikku


Langit Pagi Hari Akau
    Di sini di Tanjung Batu, untuk kesekian kalinya aku ucapkan terimakasih, terimakasih telah menjaga adikku saat seorang diri menuntut ilmu disini, terimakasih sudah menjaga kami, terimakasih untuk semua cerita kenangan dan kisah yang aku yakin tak akan pernah kulupa. Meski perlahan orang-orang meninggalkanmu sendiri aku harap kau akan selalu berdiri dengan gagah dengan segala kesederhanaan dan juga cerita yang tak akan pernah usai antara kau dan para manusia yang mencari makna hidup di tanah mu ini. Aku salah satu anak manusia yang lahir di tanahmu ini akan selalu merindukanmu. Terimakasih Tanjung Batu.


Pulau Sembulang, Galang, Kota Batam

    Kepulauan Riau memiliki banyak sekali pulau-pulau indah di dalamnya. Salah satu alasanku mengambil universitas di Batam adalah karna ini...