Untuk kali ini aku ingin menceritakan perjalananku dengan sangat panjang. Karena aku ingin membekukan perjalanan ini dalam setiap kata dengan detail dan rinci, sehingga saat aku membacanya aku bisa ikut membayangkan kejadian dan pengalaman ini. Hallo Bebyy aku persembahkan cerita ini untukmu.
27 Januari 2024, setelah sholat subuh aku berjalan perlahan menuruni anak tangga untuk menunggu mobil jemputan yang sudah kupesan tadi. Setelah menunggu beberapa saat akhirnya mobil itu tiba dan aku memulai perjalanan ini. Aku melihat jalanan-jalanan yang persis dahulu pertama kali aku tiba di Batam. Jalan ini adalah jalan menuju ke Pelabuhan Sekupang jadi saat aku melintasinya seperti ada perasaan dejavu. Dan akhirnya aku tiba di pelabuhan, tak butuh waktu lama aku membeli tiket dan masuk menuju kapal fery yang akan aku naiki ke tujuanku.
Kapal terombang-ambing kesana kemari bagai penari yang menikmati alunana melodi, langit biru terbentang begitu pun lautan ini yang biru terhampar. Di dalam kapal aku melihat banyak sekali orang yang memiliki kepentingan mereka masing-masing, ada yang membeli kebutuhan warung di Batam, ada yang habis berobat, ada yang pulang dari rantauan dan mungkin ada yang sepertiku ingin kembali ke tanah kelahiranya. Tak terasa kapal kami sampai di Pelabuhan Tanjung Batu, ada rasa sedih, senang takut semuanya bercampur menjadi satu. Bagaimana tidak dulu aku meninggalkan tempat ini kelas 3 SD dan sekarang harus kembali ke tempat ini seorang diri saat aku sudah semester 2 di bangku perkuliah.
| Pelabuhan Tanjung Batu |
Aku menikmati sekeliling pelabuhan ini, aku dulu ingat sekali sering kesini setiap malam bersama adik dan kedua orang tuaku. Aku perlahan berjalan meninggalkan pelabuhan, aku menunggu jemputan adikku. Dan syukurnya adikku tiba, sudah hampir beberapa bulan kami tidak bertemu ada rasa rindu menyelimuti pertemuan kami kala itu. Setelah cukup melepas rasa rindu kami menaiki kendaraan roda dua kami dan beranjak menuju kosan tempat adikku tinggal.
Saat kami meninggalkan pelabuhan aku melihat mobil oplet yang dahulu pernah ayahku gunakan untuk mencari nafkah. Kamu tau perasaanku saat itu? aku merasa seperti almarhum ayah sedang menunggu kedatanganku dipelabuhan, meskipun sedetik kemudian aku tersadar bahwa itu bukan ayah hanya mobilnya saja yang masih ada. Aku melewati simpang janda, vihara, tempat kerja ibuku, toko kueh yang dulu aku ingin sekali membelinya dengan uangku sendiri, dan aku juga melewati SD ku dahulu. Aku ingat di gerbang ini aku pernah menunggu jemputan ayah, pernah berjalan membawa dua tas yang penuh buku menuju tempat les sendirian, dan masih banyak lagi cerita hidupku di sini.
Selama perjalanan ada rasa aneh dan mengganjal dalam fikiranku, kenapa sedari tadi tidak ada oplet hanya ada satu oplet yang kulihat sedari tadi, itu pun oplet yang dahulu pernah di gunakan ayah saja yang kulihat di pelabuhan tadi, dan mengapa lampu merah sudah tidak berfungsi? lalu kenapa banyak rumah-rumah tertutup rapat apakah mereka juga sudah pindah dari tempat ini?
Di tengah panasnya mentari hari itu dan fikiran yang terus bertanya-tanya, kami akhirnya tiba di kosan adikku. Untuk beberapa hari aku akan tinggal disini. Sore harinya kami menuju pantai karena kebetulan pantainya tak jauh dari kosan adikku. Kami menikmati lendot dan teh tarik, sudah hampir 10 tahun aku tak makan lendot jadi kurasa ini makanan terenak yang pernah kumakan saat itu. Hingga tak terasa mentari mulai kembali ke rumahnya begitu pun aku dan adikku yang memutuskan kembali ke kosan.
| Lendot dan Teh Tarik Pantai Mukalimus |
Keesokan harinya aku memutuskan untuk berjalan-jalan ke tempat-tempat yang dahulu pernah kulewati. Tujuan kami adalah ke rumah masa kecil kami. Saat masuk ke gang aku merasa jalan ini semakin mengecil, apakah aku yang sudah tumbuh dewasa sehingga saat aku melihat jalanan ini semakin mengecil atau memang kontur jalannya yang mulai berubah? kulihat pohon jambu, pohon asem, lapangan tempatku main sekarang sudah tertutupi rimbunnya ilalang, dan kulihat batu besar tempatku bermain bersama monyet pun sudah tidak ada, malahan sekarang sudah dibangun rumah-rumah warga yang baru.
Sebelum ke rumah, aku ingin melihat mushola tempatku mengaji terlebih dahulu saat aku sampai di sana mengapa musholanya menjadi kecil? Apakah karena tubuhku dulu masih kecil sehingga aku melihat mushola ini sangat besar ya? Di samping mushola aku melihat rumah temanku, aku ingat sekali sebelum mengaji selalu bermain disana, kami kebetulan teman satu TK dan kami juga sama-sama anak supir oplet, sehingga setiap harinya kami rasa tidak ada jarak diantara kami. Tapi sekarang rumah temanku sudah tinggal puing bangunan dan ditutupi ilalang, aku tak tau kemana perginya temanku dan keluarganya.
Saat hendak beranjak dari lokasi mushola aku melihat ibu-ibu yang dulu pernah menjual rumbah petis, aku ingat sekali setiap sore sebelum mengaji kami selalu membeli rumbah di bibi itu dan karena uang jajan kami nggak cukup akhirnya karena kehausan kami meminum air keran di tempat wudhu, katanya sih airnya bersih karena dari surga heheh (dasar anak kecil). Saat itu kami tidak sakit perut malahan masa-masa kecil kami saat itu selalu lapar dan tak pernah kenyang. Karena setiap mau menuju mushola terkadang kami di jalan mencari jambu batu, jambu air, jambu monyet apapun itu kami ambil untuk kami makan bersama di mushola. Ah jadinya aku merindukan teman-temanku.
Perjalanan selanjutnya adalah tempat yang menjadi tujuanku sedari dahulu yaitu rumah masa kecilku. Saat aku melewati gang ini banyak sekali yang berubah, rumah-rumah sudah semakin sedikit, orang-orang tidak seramai dahulu, ilalang tumbuh subur menyelimuti jalan, dan rumahku? Ya benar saja rumahku berubah. Halaman rumahku yang dulu tempat parkir mobil kini sudah di tutupi tanaman pisang, cat tembok sudah mulai terkelupas, pagar mulai berkarat dan tanaman bunga milik ibu pun sudah tidak tersisa. Aku menghabiskan banyak sekali cerita di rumah ini, dua orang anak kecil yang setiap hari menunggu kedua orang tuanya pulang bekerja, bermain berlari kesana kemari sekarang semua itu tinggal cerita. Kini kedua anak itu sedang memandangi rumah masa kecilnya.
Aku melihat ke kanan ke kiri mengapa di sini sepi? Mengapa rumah teman-temanku sudah tidak ada? Apakah mereka kembali ke kampung halaman mereka masing-masing? Apakah mereka sehat? Kini gang jengkol sudah tidak seperti dahulu lagi. Aku sadar setiap orang memiliki masanya masing-masing dengan cerita yang tak akan bisa terulang lagi.
Kami memutuskan kembali ke kosan adikku, di jalan tanpa sengaja mata kami tertuju pada buah yang tak pernah kami temui di Jawa. Ya benar sekali buah matoa. Buah ini rasanya seperti perpaduan antara durian dan kelengkeng, baunya wangi dan daging buahnya tebal. Dahulu setiap ayah dan mamah pulang kerja pasti mereka membawakan kami martabak jagung dan matoa. Dahulu buah ini juga jarang bisa dibeli setiap hari karena waktu musimnya, banyaknya permintaan, dan harganya yang lumayan. Saat itu kami membeli untuk satu kilonya seharga Rp60.000.
| Matoa |
Keesokan harinya kami berjalan-jalan menikmati suasana Tanjung Batu, kanan kiri kami melihat pohon karet, sawit, dan rumah-rumah beratap rumbia juga masih kami jumpai. Tujuan kami adalah mencari kosan yang baru untuk adikku. Tapi karena cuaca yang panas dan juga adikku yang sudah tidak betah tinggal sendirian di Tanjung Batu, jadi kami bertiga berdisku dan akhirnya memutuskan untuk membawa adikku ke Batam tinggal bersamaku. Jadi hari itu kami memutuskan ke pelabuhan untuk menanyakan kapan kapal yang akan kami gunakan tiba, agar kami bisa bersiap-siap.
Pelabuhan yang kami tuju kali ini berada di Selat Beliah. Aku ingat sekali dahulu di sepanjang jalan ini banyak orang-orang berdiri menunggu oplet lewat dan banyak oplet yang berlalu lalang, mungkin karena sekarang sudah banyak orang yang memiliki motor dan mobil pribadi jadi lama kelamaan oplet sudah mulai tersingkirkan dan sekarang sudah tidak digunakan. Entah mendapat ide dari mana, tiba-tiba aku melihat mobil bak hitam terparkir dihalaman salah seorang warga, aku memutuskan berhenti dan meminta nomor bapak itu. Kenapa aku meminta nomornya? akupun tak tahu kenapa aku punya keberanian untuk meminta nomor bapak tersebut. Lalu akhirnya kami sampai di pelabuhan Selat Beliah. Disini sudah sepi tak seramai dahulu. Aku ingat dahulu saat aku kecil selepas sholat subuh aku mengantarkan kepergian ayah untuk bekerja tapi mungkin karena saat itu libur sekolah ayah mengajakku untuk menarik penumpang. Aku jadi sudah terbiasa dengan para supir oplet dan juga pelabuhan ini tak asing dalam ingatan masa kecilku. Jadi saat sekarang aku kembali kesini aku benar-benar merindukan suasana itu.
Aku melihat pohon besar di samping pelabuhan ini, dulu saat tak mendapatkan penumpang aku dimintai ayah untuk mencarikanya uban sambil mendengarkan cerita. Katanya di Jawa itu banyak sawah, rumah nenek deket masjid dan banyak cerita indah yang ayah ceritakan kepadaku. Dan hingga akhirnya ucapan ayahpun dikabulkan Tuhan, kami akhirnya sekeluarga pulang ke kampung halaman ayah dan mamah. Ibuku juga dahulu di sini di selat ini pernah berkata "Mamah, ayah sama kakak mah lahirnya di Jawa, jadi kami harus pulang ke Jawa. Kalo Wulan sama Guntur mah lahirnya di sinih mamah yakin pasti suatu saat kaliam bakal kembali lagi kesini". Ternyata ucapan mamah benar aku dan adikku kembali menginjakan kaki disini hanya berdua saja. Dan ayah yang bercerita tentang indahnya tempat kelahiranya akhirnya berpulang kembali untuk selama-lamanya di tempat yang selalu ia ceritakan kepadaku. Tempat ini, selat ini penuh cerita bagi diriku.
| Pelabuhan Selat Beliah |
Kami akhirnya bertanya tentang keberangkatan kapal, ternyata kapal yang membawa motor dan penumpang hanya ada sore ini saja jadi besok tidak ada. Sementara kami berfikir karena kami belum membereskan perlengkapan, belum izin ke pemilik kosan, dan tak membawa persiapan apa-apa. Jadi setelah berunding akhirnya aku harus melepaskan adikku terlebih dahulu, karena adikku membawa kendaraan bermotor jadi hanya sore ini kesempatan kami. Jadi aku mengantar kepergiannya dan aku masih di sini sendiri.
Setelah kapal yang adikku naiki sudah tak terlihat aku berjalan perlahan menjauhi dermaga, dan kamu tahu? ternyata dorongan yang entah muncul dari mana untuk meminta nomor hp bapak-bapak di jalan tadi jawabannya adalah untuk ini. Karena saat di pelabuhan aku bertanya apakah ada oplet atau ojek kata bapak penjaga loket tidak ada. Syukur alhamdulillah aku sudah meminta nomor hp bapak diawal tadi jadi langsung aku hubungi dan memintanya menjemputku. Terimakasih Yaallah terimakasih untuk kemudahan dan kebaikan yang engkau berikan kepada kami.
Mobil bak hitam akhirnya tiba ini mobil satu-satunya yang aku lihat sedari tadi menunggu di pelabuhan. Tujuan kami adalah ke kosan adik dan membawa barang-barangnya ke pelabuhan. Saat diperjalanan aku dan bapak itu bertukar banyak cerita dan bapak itu menjelaskan bahwa disini sudah mulai sepi ditinggal para perantau. Oplet sudah tidak ada karena setiap orang sudah memiliki kendaraan masing-masing. Tak terasa kami sudah sampai, setelah aku membereskan barang-barang meminta izin ke pemilik kosan dan bersalaman dengan warga sekitar kami pun berangkat ke pelabuhan selat beliah. Saat di jalan kami baru sadar waktu sudah mau malam dan sepertinya kapal di Selat Beliah sudah berangkat dan tidak ada keberangkatan lagi. Aku bilang ke bapak itu tidak apa-apa malam ini aku tidur di pelabuhan selat beliah saja, tapi bapak itu tidak mengizinkan katanya nggak baik untuk perempuan jadi kami memutar kembali untuk berbalik arah menuju pelabuhan Tanjung Batu. Aku mulai santai karena mungkin besok baru bisa membeli tiket, aku menikmati sore hari di sini, dan akhirnya tiba di Akau. Akau ini adalah tempat makan orang Tanjung Batu, dahulu saat ada pertandingan piala dunia disini kami berkumpul menikmati makanan di pinggir laut dan menonton pertandingan melalui layar tancap. Aku baru tersadar hp ku mati sedari tadi, dan aku meminta izin kepada salah satu masyarakat disana untuk menghubungi kakak dan kata kakak malam ini jangan tidur di akau tidur di hotel saja. Akhirnya aku sampai di hotel dan berterimakasih ke bapak pemilik mobil tadi.
Malamnya aku menikmati suasana di akau, tapi disini sudah banyak yang berubah. Dulu didepan hotel ini berdiri istana balon dan permainan mandi bola, dulu setiap sore aku, adikku, ayah dan mamah selalu kesini. Karena di waktu sore hari inilah kami bisa berkumpul bersama setelah menghabiskan siang hari kami tak bertemu karena kesibukan kami masing-masing. Tapi sekarang gelap tak ada istana balon dan para muda-mudi yang duduk di pinggiran jalan. Saat aku melangkahkan kaki ke akau bagian belakang, ternyata disana sudah tidak ada sekarang sudah digabung di akau depan. Dan di akau depan juga sudah tak seramai dahulu. Jadi aku memutuskan berjalan lurus kedepan, aku membeli jasuke ternyata penjualnya masih orang yang sama, ia setia berjualan padahal aku dahulu masih TK dan sekarang sudah kuliah dia masih tetap ditempat yang sama dan berjualan yang sama. Semoga Allah memberikan kesehatan, kebahagiaan dan umur panjang bagi penjual jasuke tersebut aamiin.
Aku kembali ke hotel dan beristirahat setelah menghabiskan hari yang panjang ini. Tak terasa pagi mulai tiba. Aku bersiap-siap dan mulai sadar ternyata barang-barangku sangat banyak bagaimana caraku membawanya ke pelabuhan. Meskipun hotelnya tak jauh dari pelabuhan tapi butuh beberapa kali untuk mengambilnya. Aku perlahan keluar dari hotel dan membeli tiket di pelabuhan. Dan disana aku melihat segerombolan bapak-bapak yang hendak pulang kampung aku menjelaskan bahwa aku kesulitan dan syukur alhamdulillah salah satu bapak ada yang membantuku membawa barang-barang. Saat aku menawari uang sebagai ungkapan terimakasih bapak tersebut menolak, katanya dia teringat anaknya yang juga seusiaku. Dia berharap semoga anaknya juga dibantu Tuhan jika mengalami kesulitan sebagaimana dia membantuku hari ini. Aku berterimakasih dan akhirnya aku menuju pinggiran pelabuhan untuk menunggu kapal tiba.
| Barang-barang Adikku |
| Langit Pagi Hari Akau |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar